Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 8, '09 6:22 AM
for everyone

Postingan ini didedikasikan atas cerita seorang sahabat yang suaminya berhenti merokok setelah membaca Puisi karya Taufiq Ismail ini. Semoga bermanfaat untuk yang lain dan mampu jadi motivasi untuk yang sedang berniat untuk berhenti merokok.

* * * * * * * * * * * * * * * *

Tuhan Sembilan Senti
 
Oleh: Taufiq Ismail
 
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
 
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
 
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
 
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
 
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
 
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
 
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
 
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
 
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
 
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
 
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
 
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
 
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
 
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
 
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
 
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
 
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
 
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
 
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
 
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
 
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
 
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
 
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
 
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
 
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
 
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
 
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
 
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
 
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.


41 Comments
hannakhaliddiyyah wrote on Oct 8, '09
hmm.. bahaya yg sudah jelas tp tetap diterjang..
momonganak wrote on Oct 8, '09
hmm.. bahaya yg sudah jelas tp tetap diterjang..
betul, ini sebuah tantangan jaman sekarang dalam membesarkan anak-anak kita.
dayanadayanadayana wrote on Oct 8, '09
Bagus bgt puisi nya.... Minta ijin dikutip yaa...
momonganak wrote on Oct 8, '09
Bagus bgt puisi nya.... Minta ijin dikutip yaa...
mari mari...ini dapet dari co-pas juga kok.
teeya wrote on Oct 8, '09
copy paste ya mbak.. ^_^
liligunawan wrote on Oct 8, '09
Meskipun saya bukan Muslim dan sebagian nggak ngerti karena berbahasa Arab, but saya sangat kagum sama puisi yg luar biasa ini. Saya sangat setuju ama isi puisi ini. Karena buat saya merokok bukan cuma merugikan diri sendiri tapi juga org lain. Sangat ironis dan egois, menurut saya. Makasih sdh berbagi puisinya. Sangat menginspirasi.
ajengprimastiwi wrote on Oct 8, '09
ijin copas juga y, kak
dyasbaik wrote on Oct 8, '09
bagussss.....................
momonganak wrote on Oct 8, '09
teeya said
copy paste ya mbak.. ^_^
silakan mbak..
momonganak wrote on Oct 8, '09
Meskipun saya bukan Muslim dan sebagian nggak ngerti karena berbahasa Arab, but saya sangat kagum sama puisi yg luar biasa ini. Saya sangat setuju ama isi puisi ini. Karena buat saya merokok bukan cuma merugikan diri sendiri tapi juga org lain. Sangat ironis dan egois, menurut saya. Makasih sdh berbagi puisinya. Sangat menginspirasi.
betul Sis, aku speechless bacanya..
momonganak wrote on Oct 8, '09
ijin copas juga y, kak
silakan, semoga bermanfaat.
momonganak wrote on Oct 8, '09
bagussss.....................
^_^
kuesyafina wrote on Oct 8, '09
TFS........... ijin copas ya.....,
momonganak wrote on Oct 8, '09
TFS........... ijin copas ya.....,
silakan ^_^
iqeiqe wrote on Oct 8, '09
ijin jg yaa
momonganak wrote on Oct 8, '09
iqeiqe said
ijin jg yaa
iyaaaa, silakan sajaa. ^_^
arumbarmadisatrio wrote on Oct 8, '09
copas.....buat disebarin di kantor.....
momonganak wrote on Oct 8, '09
copas.....buat disebarin di kantor.....
wahahaha kayak brosur catering aja, silakan mbak, teman2ku juga begitu pagi ini. Hidup hari Jumat! *sedikit ga nyambung*
arumbarmadisatrio wrote on Oct 8, '09
wahahaha kayak brosur catering aja, silakan mbak, teman2ku juga begitu pagi ini. Hidup hari Jumat! *sedikit ga nyambung*
sekali2 promonya rada bermutu gitu maksudnya.....
momonganak wrote on Oct 8, '09
sekali2 promonya rada bermutu gitu maksudnya.....
amien, amien..semoga para bapak tergugah untuk berhenti membakar uang. ^_^
dhafinal wrote on Oct 9, '09
thanks ya. ijin copas ya..
momonganak wrote on Oct 9, '09
thanks ya. ijin copas ya..
silakan bunda..terima kasih.
dyasbaik wrote on Oct 9, '09
berasa bgt, nih puisi...
di kantor temen2 pd bau rokkok semua, pdhal lg gk pd ngerokok. tuh bau rokok udah melekat bgt ke badan2 mereka.
jd suka tiba-tiba pusing2 kepala nyut2an gara2 bau rokkokk...
momonganak wrote on Oct 9, '09
berasa bgt, nih puisi...
di kantor temen2 pd bau rokkok semua, pdhal lg gk pd ngerokok. tuh bau rokok udah melekat bgt ke badan2 mereka.
jd suka tiba-tiba pusing2 kepala nyut2an gara2 bau rokkokk...
iya emang asap tuh baunya kuat banget ya mbak bekasnya..seharusnya diganti asap tukang sate aja hehe *peace*
pelangiselaluindah wrote on Oct 10, '09
keren mba
saya bukan izin copas
tp izin tulis ulang ajah
hehee
berhubung sya buka dr hp
izin jg m mas taufik ismailnya ni harusnya
n.n
momonganak wrote on Oct 10, '09
keren mba
saya bukan izin copas
tp izin tulis ulang ajah
hehee
berhubung sya buka dr hp
izin jg m mas taufik ismailnya ni harusnya
n.n
gapapah kayaknya sama eyang taufik asalkan ga diganti2 aja kata2nya atau diaku2 sbg karya sendiri hihi.
pelangiselaluindah wrote on Oct 10, '09
emg ini puisi terbarunya taufik ismail mba ? ada keterangan wkt yg jelas g kpan puisi ini d bkin ?
momonganak wrote on Oct 10, '09
emg ini puisi terbarunya taufik ismail mba ? ada keterangan wkt yg jelas g kpan puisi ini d bkin ?
lha ya itu mba aku dapat co-pas an ini juga tanpa keterangan tanggal hehehe.
bundawannabe wrote on Oct 12, '09
Izin copas yak.. Thx
momonganak wrote on Oct 12, '09
Izin copas yak.. Thx
yuuk marii.
mbokebintang wrote on Oct 14, '09
Ijin copas ya mbak...*sedih, orang terdekatku belum bisa berhenti menyembah barang ini...hiks...*
momonganak wrote on Oct 14, '09
Ijin copas ya mbak...*sedih, orang terdekatku belum bisa berhenti menyembah barang ini...hiks...*
silakan mbak, semoga bermanfaat.
tokokevin wrote on Oct 19, '09
Ijin juga ah... Hehehehe...
Alhamdullillah... suamiku ga merokok... adikku ga merokok...
Tambahin ah...
Di acara halal bihalal, bapak2 merokok
Di halaman sekolah anakku, bapak2 & tukang kebon merokok...

momonganak wrote on Oct 19, '09
Ijin juga ah... Hehehehe...
Alhamdullillah... suamiku ga merokok... adikku ga merokok...
Tambahin ah...
Di acara halal bihalal, bapak2 merokok
Di halaman sekolah anakku, bapak2 & tukang kebon merokok...

langsung tancep aja Sis...*untuk co-pas, maksudnya*
TFS ^_^
sepuluhseptember wrote on Oct 29, '09
WoW! Tiba2 nemu yg keren bgt gini. Thx,ijin ngutip y mba,tp gmn cara izin k taufik ismail nya yah..hehe
momonganak wrote on Oct 29, '09
WoW! Tiba2 nemu yg keren bgt gini. Thx,ijin ngutip y mba,tp gmn cara izin k taufik ismail nya yah..hehe
Kayaknya ga papa sama eyang Taufik selama ga diaku-aku sebagai karya sendiri hehehe.

Semoga bermanfaat mba.
bagas5 wrote on Nov 11, '09
mnt izin tuk d c0py
momonganak wrote on Nov 11, '09
bagas5 said
mnt izin tuk d c0py
silakeun...
mutitem wrote on Nov 14, '09
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
Para pengudut tu
mencari Tuhan mreka di dalam
asap nikotin.

Jadi memang tepat judul sajak ni
"Tuhan 9 senti".

(Resah/glisah/marah mreka tanpa ngudut!).
momonganak wrote on Nov 14, '09
mutitem said
Para pengudut tu
mencari Tuhan mreka di dalam
asap nikotin.

Jadi memang tepat judul sajak ni
"Tuhan 9 senti".

(Resah/glisah/marah mreka tanpa ngudut!).
haha iya ya, begitulah kalau orang mencandu, hilang akal kalau tidak dipenuhi rasa candunya..
mutitem wrote on Nov 14, '09, edited on Nov 14, '09
haha iya ya, begitulah kalau orang mencandu, hilang akal kalau tidak dipenuhi rasa candunya..



****************************************************************************
SH ... HHAAHH. Jul 29, '09 7:59 AM
for everyone
****************************************************************************
***




Kebangetan bahayanya.

Bahaya: cepat mati
tapi pe-pengudut tu tak-peduli
mikir mati (a)da(lah) soal nanti.

Resah, glisah, ragu mreka kini
dan nikotin nawarkan janji:
skali hisap akan tokcer dunia ni,
hilang dera tak-percaya, tak-mantap,
dera letih, lesu di dalam sanubari.

Skali hisap shh ... hahhh
lho, mana tu ragu, takut, resah-glisah?.
Satu lagi ... shh ...hahh ..., mana tu resah?.
Onde mandeee ... dunia ni terlihat lebih indah
dan lebih mantap, yakinkan kini.

"Syapa yang peduli mati?", pikir mreka.
"Detik ni aku ada di surga,
surga-kecil atau smacam nirwana".

Mreka (a)da(lah) pencari surga
kerna rasa dunia gitu ragu dan nestapa.

"Dosakah aku?", pikir mreka.
"Dosakah aku kalau nyari bah(a)gia
kerna hidup ni kurasa derita?".

Mreka hanya harap semata
ampun Tuhan pada mreka,
mikir sang Terpengasih ada
dan pengampun mahklukNya.


Catatan:

Ni hanya cetak-ulang jawaban tuk tanggapan Chuin5
di albumku NGUDUT (NIKOTIN).
Ku cetak sini kerna masih terkait ngudut.
Add a Comment
   
Online Seller

' Momong Anak