Postingan ini didedikasikan atas cerita seorang sahabat yang suaminya berhenti merokok setelah membaca Puisi karya Taufiq Ismail ini. Semoga bermanfaat untuk yang lain dan mampu jadi motivasi untuk yang sedang berniat untuk berhenti merokok.
* * * * * * * * * * * * * * * *
Tuhan Sembilan Senti Oleh: Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah…ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Meskipun saya bukan Muslim dan sebagian nggak ngerti karena berbahasa Arab, but saya sangat kagum sama puisi yg luar biasa ini. Saya sangat setuju ama isi puisi ini. Karena buat saya merokok bukan cuma merugikan diri sendiri tapi juga org lain. Sangat ironis dan egois, menurut saya. Makasih sdh berbagi puisinya. Sangat menginspirasi.
Meskipun saya bukan Muslim dan sebagian nggak ngerti karena berbahasa Arab, but saya sangat kagum sama puisi yg luar biasa ini. Saya sangat setuju ama isi puisi ini. Karena buat saya merokok bukan cuma merugikan diri sendiri tapi juga org lain. Sangat ironis dan egois, menurut saya. Makasih sdh berbagi puisinya. Sangat menginspirasi.
berasa bgt, nih puisi... di kantor temen2 pd bau rokkok semua, pdhal lg gk pd ngerokok. tuh bau rokok udah melekat bgt ke badan2 mereka. jd suka tiba-tiba pusing2 kepala nyut2an gara2 bau rokkokk...
berasa bgt, nih puisi... di kantor temen2 pd bau rokkok semua, pdhal lg gk pd ngerokok. tuh bau rokok udah melekat bgt ke badan2 mereka. jd suka tiba-tiba pusing2 kepala nyut2an gara2 bau rokkokk...
iya emang asap tuh baunya kuat banget ya mbak bekasnya..seharusnya diganti asap tukang sate aja hehe *peace*
Ijin juga ah... Hehehehe... Alhamdullillah... suamiku ga merokok... adikku ga merokok... Tambahin ah... Di acara halal bihalal, bapak2 merokok Di halaman sekolah anakku, bapak2 & tukang kebon merokok...
Ijin juga ah... Hehehehe... Alhamdullillah... suamiku ga merokok... adikku ga merokok... Tambahin ah... Di acara halal bihalal, bapak2 merokok Di halaman sekolah anakku, bapak2 & tukang kebon merokok...
langsung tancep aja Sis...*untuk co-pas, maksudnya* TFS ^_^
haha iya ya, begitulah kalau orang mencandu, hilang akal kalau tidak dipenuhi rasa candunya..
**************************************************************************** SH ... HHAAHH. Jul 29, '09 7:59 AM for everyone **************************************************************************** ***
Kebangetan bahayanya.
Bahaya: cepat mati tapi pe-pengudut tu tak-peduli mikir mati (a)da(lah) soal nanti.
Resah, glisah, ragu mreka kini dan nikotin nawarkan janji: skali hisap akan tokcer dunia ni, hilang dera tak-percaya, tak-mantap, dera letih, lesu di dalam sanubari.
Skali hisap shh ... hahhh lho, mana tu ragu, takut, resah-glisah?. Satu lagi ... shh ...hahh ..., mana tu resah?. Onde mandeee ... dunia ni terlihat lebih indah dan lebih mantap, yakinkan kini.
"Syapa yang peduli mati?", pikir mreka. "Detik ni aku ada di surga, surga-kecil atau smacam nirwana".
Mreka (a)da(lah) pencari surga kerna rasa dunia gitu ragu dan nestapa.
"Dosakah aku?", pikir mreka. "Dosakah aku kalau nyari bah(a)gia kerna hidup ni kurasa derita?".
Mreka hanya harap semata ampun Tuhan pada mreka, mikir sang Terpengasih ada dan pengampun mahklukNya.
Catatan:
Ni hanya cetak-ulang jawaban tuk tanggapan Chuin5 di albumku NGUDUT (NIKOTIN). Ku cetak sini kerna masih terkait ngudut.